Teddy Bear

Selasa, 09 Oktober 2018

PAI (SHIROH 60 SAHABAT NABI)

QEIS BIN SA’AD BIN ’UBADAH

NAMA       : Erisa Putri Maulina
NIM          : 04218038


Qeis bin Sa'ad bin 'Ubadah adalah seorang pemuda lihai, banyak tipu muslihat, mahir, licin dan cerdik. Ia pernah berkata, "Kalau tidak karena Islam, aku kubuat tipu muslihat yang tidak dapat ditandingi oleh bangsa Arab....!"
Hasil gambar untuk perang shiffin
Perang Shiffiin
Pada Perang Shiffin, peperangan antara Ali dan Muawiyah, ia berdiri di pihak Ali. Maka duduklah ia merencanakan suatu tipu muslihat yang akan membinasakan Mu'awiyah dan para pengikutnya di suatu hari nanti.
Namun, ketika ia menyadari bahwa muslihat itu sangat jahat dan berbahaya, ia pun teringat akan firman Allah, "Dan tipu daya jahat itu akan kembali menimpa orangnya sendiri." (QS. Fathir: 43).
Maka ia pun segera membatalkan rencana tersebut sambil memohon ampun kepada Allah, seolah-olah mulutnya berkata, "Demi Allah, seandainya Mu'awiyah dapat mengalahkan kita nanti, maka kemenangannya itu bukanlah karena kepintarannya, tetapi hanyalah karena kesalehan dan ketakwaan kita."
Sesungguhnya pemuda Anshar dari Suku Khazraj ini adalah dari golongan pemimpin besar, yang mewariskan sifat-sifat mulia. Ia putra Sa'ad bin 'Ubadah, seorang pemimpin Khazraj.
Tak ada perangai lain pada dirinya yang lebih menonjol dari kecerdikannya kecuali kedermawanannya. Dermawan dan pemurah bukanlah merupakan perangai baru bagi Qeis. Sebab, ia adalah keturunan orang-orang yang dikenal dermawan dan pemurah.
Suatu hari, Umar bin Al-Khathab dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bercakap-cakap seputar kedermawanan Qeis. "Kalau kita biarkan terus pemuda ini dengan kedermawanannya, niscaya akan habis licin harta orang tuanya," kata Umar.
Pembicaraan tentang Qeis itu sampai kepada sang ayah, Sa'ad bin 'Ubadah. "Siapa yang dapat membela diriku terhadap Abu Bakar dan Umar? Diajarnya anakku kikir dengan memperalat namaku," kata Sa'ad.
Selain itu, Qeis bin Sa'ad 'Ubadah juga terkenal dengan keberanian di medan juang. Ia turut membela Rasulullah SAW dengan gagah berani dalam setiap pertempuran, ketika beliau masih hidup. Dan kemasyhuran itu bersambung pada pertempuran-pertempuran yang dijalaninya setelah Rasulullah wafat.
Sesungguhnya, keberanian sejati memancar dari kepuasan pribadi orang itu sendiri. Kepuasan ini bukan karena dorongan hawa nafsu dan keuntungan tertentu, tetapi disebabkan oleh ketulusan diri pribadi dan kejujuran terhadap kebenaran.
Demikianlah, sewaktu timbul pertikaian antara Ali dan Mu'awiyah, Qeis memencilkan diri. Dia terus berusaha mencari kebenaran dari celah-celah kepuasannya itu. Hingga akhirnya, demi melihat kebenaran itu berada di pihak Ali, bangkitlah ia, tampil di samping sepupu Rasulullah itu dengan gagah berani.
Di medan Perang Shiffin, Jamal, dan Nahrawan, Qais merupakan salah seorang pahlawan yang berperang tanpa takut mati. Dialah yang meneriakkan bendera Anshar dengan kata-kata, "Bendera inilah bendera persatuan!"
Keberanian Qeis mencapai puncak dan kematangannya sesudah syahidnya Ali dan dibaiatnya Hassan. Sesungguhnya Qeis memandang Hassan ra sebagai tokoh yang cocok menurut syariat untuk jadi Imam (Kepala Negara), maka ia pun berbaiat kepadanya. Qeis berdiri di samping Hassan sebagai pembela, tanpa mempedulikan bahaya yang akan menimpanya.
Ketika perang telah mencapai puncaknya dan Hassan menderita luka-luka kemudian membaiat Mu'awiyah, maka tanggung jawab pasukan ada di pundak Qeis. Ia mengumpulkan mereka semua, kemudian berkata, "Jika kalian menginginkan perang, aku akan tabah berjuang bersama kalian hingga salah satu di antara kita dijemput maut terlebih dahulu. Namun, jika kalian memang memilih perdamaian, maka aku akan mengambil langkah-langkah untuk itu."
Pasukannya memilih yang kedua. Maka mereka meminta jaminan keamanan dari Mu'awiyah yang kemudian memberikannya dengan suka cita. Mu'awiyah merasa takdir telah membebaskannya dari musuhnya yang terkuat, paling gigih, serta berbahaya!
Pada tahun 59 H, di Kota Madinah Al-Munawwarah, telah pulang ke rahmatullah seorang pahlawan. Seorang pemberani yang dengan keislamannya dapat mengendalikan kecerdikan dan keahlian tipu muslihat menjadi obat penawar bisa.
Lelaki yang pernah berkata, "Kalau tidaklah aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, 'Tipu daya dan muslihat licik itu di dalam neraka,' Niscaya akulah yang paling lihai di antara umat ini!" itu pun menemui Rabb-nya. Meninggalkan nama harum sebagai seorang laki-laki yang jujur, terus terang, dermawan dan berani.
Benar.... ia telah berpulang dengan mewariskan pusaka nama baaik seorang laki-laki yang terpercaya, baik tentang watak keislamannya maupun tentang tanggung jawab dan menepati janji...


Lihat versi Power Point nya di link berikut:https://www.dropbox.com/s/5bnp5o30xlh0fn5/TUGAS%20PAI.pptx?dl=0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menghitung Matriks Eliminasi Gauss dengan Bahasa Pemrograman Python3

Kali ini saya akan menghitung matriks dengan metode "Eliminasi Gauss" menggunakan bahasa pemrograman Python3. Berikut source code...